+62 21 298 20258
Longsor adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan pergerakan turun tanah tanah, batuan dan bahan organik di bawah pengaruh gravitasi. Salah satu peran penting dari Web GIS dan Penginderaan Jarak Jauh adalah untuk memperbaiki pemetaan inventarisasi tanah longsor.

Hal ini dilakukan melalui penilaian dan kerentanan longsor. Dalam konsep ini, penerapan Web GIS ditekankan untuk prediksi dan pemetaan daerah rentan longsor.

Penyebab Longsor

Dalam melakukan mitigasi bencana menggunakan web GIS, secara dasar kita dapat pahami penyebab tanah longsor terlebih dahulu. Ada tiga penyebab utama yang menciptakan terjadinya tanah longsor – Geologi, Morfologi dan Aktivitas Manusia.

Geologi mengacu pada karakteristik material itu sendiri. Tanah atau batu mungkin lemah atau retak, atau lapisan yang berbeda mungkin memiliki kekuatan dan kekakuan yang berbeda.
Morfologi mengacu pada struktur tanah. Misalnya, lereng yang kehilangan vegetasi atau kekeringan lebih rentan terhadap tanah longsor. Vegetasi menguatkan tanah di suatu tempat dan tanpa sistem akar pohon, semak, dan tanaman lainnya, tanah cenderung dapat terkikis oleh curah hujan. Penyebab lainnya adalah: Kondisi iklim, Gempa Bumi, Pelapukan, Erosi, Gunung Berapi, Kebakaran Hutan dan Gravitasi.
Aktivitas manusia seperti pertanian dan konstruksi dapat meningkatkan risiko tanah longsor. Aktivitas penambangan yang memanfaatkan teknik peledakan sangat berkontribusi terhadap tanah longsor. Getaran yang dihasilkan dari ledakan melemahkan tanah di sekitar dan membuat tanah tersebut rentan terhadap bahaya longsor.

Jenis Tanah Longsor

Ada banyak cara untuk menggambarkan tanah longsor. Sifat gerakan tanah longsor dan jenis material yang terlibat adalah dua yang paling umum.

Gerakan longsor termasuk jatuh, tanah gundul, translasi lereng, spread lateral, dan arus. Blok material berat jatuh setelah memisahkan diri dari lereng atau tebing yang sangat curam. Sebuah batu yang licin dapat jatuh menuruni lereng. Penyebaran atau aliran lateral adalah perpindahan material ke samping, atau lateral. Hal ini terjadi ketika sebuah kekuatan yang dahsyat, seperti gempa bumi, membuat tanah bergerak cepat, seperti cairan.

manfaat web gis utuk pengenalan lahan rawan longosr

Penerapan Web GIS dan Penginderaan Jarak Jauh dalam Pemetaan dan Analisis Zonasi Bahaya Tanah Longsor

Tanah longsor merupakan salah satu bencana besar yang terjadi di daerah perbukitan. Mereka tidak dapat diprediksi oleh alam dan dengan demikian untuk menganalisis bahaya longsor cukup rumit untuk dipelajari.

Alat seperti Web GIS dan Remote Sensor (RS) dapat menjadi sangat penting dalam menganalisis pengaruh faktor dimana terjadinya kejadian longsor.

Definisi “Peta Bahaya Tanah Longsor” mencakup : zonasi yang menunjukkan kemungkinan longsor tahunan yang terjadi di seluruh wilayah.

Peta kerentanan tanah longsor adalah konsep dasar kerentanan longsor (Radbruch 1970; Dobrovolny 1971; Brabb dan Pampeyan 1972) mencakup distribusi faktor-faktor yang berkaitan dengan proses ketidakstabilan untuk menentukan zona daerah rawan longsor tanpa implikasi temporal.

Pendekatan ini berguna untuk daerah yang sulit mendapatkan cukup informasi mengenai catatan sejarah peristiwa longsor yang memberi peringkat stabilitas lereng suatu area dalam kategori yang berkisar dari stabil hingga tidak stabil. Peta kecacatan yang dihasilkan dari Web GIS dapat menunjukkan di mana tanah longsor bisa terjadi.

Seleksi Metodologi

Pertama, definisi tujuan penelitian. Bahaya ada bahwa data yang akan dikumpulkan tidak sesuai dengan skala analisis, atau metode analisisnya. Hal ini dapat menyebabkan pemborosan waktu dan uang jika data yang terlalu terperinci dikumpulkan, atau penyederhanaan yang berlebihan jika data yang terlalu umum dikumpulkan.

Hal-hal berikut harus dipertimbangkan:

Tujuan Penelitian

Mendefinisikan Tujuan

Studi bahaya tanah longsor dapat dilakukan untuk berbagai tujuan. Beberapa di antaranya mungkin:

  • Untuk studi dampak lingkungan pada pekerjaan teknik
  • Untuk penanggulangan bencana di suatu daerah
  • Untuk pemodelan hasil sedimen di daerah tangkapan air
  • Untuk proyek pengelolaan daerah aliran sungai
  • Untuk proyek partisipasi masyarakat dalam penanggulangan bencana
  • Untuk mendorong kesadaran di kalangan pengambil keputusan
  • Untuk tujuan ilmiah

Masing-masing tujuan di atas akan menghasilkan persyaratan khusus berkenaan dengan skala pekerjaan, metode analisis dan jenis serta detail data masukan yang akan dikumpulkan.

Skala Penelitian

Skala Analisis

  • Skala nasional

    Lebih kecil dari 1: 1.000.000, meliputi seluruh provinsi, terutama ditujukan untuk membangkitkan kesadaran di kalangan pengambil keputusan dan masyarakat umum. Peta pada skala ini sering dimaksudkan untuk disertakan dalam atlas nasional.

  • Skala regional

    Antara 1: 100.000 dan 1: 1.000.000, meliputi daerah suatu provinsi. Peta pada skala ini sebagian besar ditujukan untuk tahap observasi untuk proyek perencanaan pada pembangunan proyek infrastruktur, atau proyek pembangunan pertanian.

  • Skala sedang

    Antara 1: 25.000 dan 1: 100.000, meliputi daerah kotamadya atau cakupan lebih kecil. Dimaksudkan untuk tahap perencanaan rinci proyek dalam pembangunan pekerjaan infrastruktur, penilaian dampak lingkungan dan perencanaan kota.

  • Skala besar

    Antara 1: 2.000 dan 1: 25.000, meliputi kota atau (sebagian) kota. Mereka digunakan untuk pencegahan bencana dan pembuatan peta risiko, serta untuk tahap desain rekayasa teknik.

  • Skala investigasi situs

    Antara 1: 200 sampai 1: 2000, meliputi area dimana pekerjaan rekayasa akan dilakukan, atau mencakup longsor tunggal. Mereka digunakan untuk perancangan detil untuk pekerjaan teknik, seperti jalan, jembatan, terowongan, bendungan, dan untuk konstruksi pekerjaan stabilisasi lereng.

Jenis Analisis

Zonasi Bahaya

Zonasi bahaya ketidakstabilan lereng didefinisikan sebagai: Pemetaan daerah dengan probabilitas terjadinya tanah longsor yang sama dalam jangka waktu tertentu (Varnes, 1984)

Zonasi bahaya tanah longsor terdiri dari dua aspek yang berbeda:

  • Penilaian kerentanan medan untuk kegagalan lereng, di mana kerentanan medan untuk proses berbahaya mengungkapkan kemungkinan fenomena seperti itu terjadi di bawah kondisi atau parameter medan yang diberikan.
  • Penentuan probabilitas terjadinya pemicu.

Seringkali penilaian ketidakstabilan lereng menggunakan asumsi: Kondisi yang menyebabkan di masa lalu mengalami kegagalan lereng, juga akan mengakibatkan kondisi potensial tidak stabil saat ini.

Jenis Input Data

Pemetaan Bahaya Langsung / Tidak Langsung

  • Pemetaan bahaya langsung

    Pengalaman menggunakan pendekatan geo-morfologi yang diterapkan, di mana ilmuwan mengevaluasi hubungan langsung antara tanah longsor dan geo-morfologi dan geologi selama survei di lokasi kegagalan.

  • Pemetaan bahaya tidak langsung

    Pemetaan sejumlah besar parameter dan analisis (statistik atau deterministik) dari semua faktor penyebab yang mungkin terjadi sehubungan dengan terjadinya fenomena ketidakstabilan lereng.

    Hal ini dapat dilakukan menggunakan Web GIS dengan cara menentukan hubungan antara kondisi medan dan terjadinya tanah longsor. Berdasarkan hasil pernyataan analisis yang dihasilkan Web GIS mengenai kondisi dimana terjadi kemiringan yang berlanjut.

Lumbung GeoAppliance Dapat Membantu Anda

Dengan pengalaman di puluhan instansi pemerintah dan swasta, Lumbung GeoAppliance dapat diandalkan untuk pemetaan daerah rawan longsor.

Mitigasi bencana selain dapat mencegah jatuhnya korban jiwa, juga dapat menghemat biaya penanggulangan pada tiap daerah.

Diskusikan Proyek Anda Bersama Kami

Tim Lumbung GeoAppliance siap membantu kebutuhan pemetaan web GIS untuk kebutuhan organisasi Anda dari awal proses hingga implementasi.
Share This